Blog

  • Anak Soleh Itu Dambaan Orang Tua

    Anak Soleh Itu Dambaan Orang Tua

    SETIAP orang tua mendambakan anak yang saleh dan salehah; sosok yang mendoakan saat mereka tiada dan menjadi penyejuk mata saat mereka masih ada. Hanya saja, sering kali kita lupa bahwa kesalehan anak bukanlah peristiwa yang terjadi secara kebetulan.

    Kesalehan anak merupakan sebuah kesinambungan spiritual yang berakar dari integritas moral orang tuanya.  Dalam tradisi Islam, terdapat korelasi yang sangat kuat antara kualitas ketakwaan orang tua dengan masa depan keturunannya, baik dalam aspek keselamatan dunia maupun akhirat.

    Pelajaran ini didapat dari kisah Al-Qur’an, tepatnya pada Surah Al-Kahfi ayat 82. Di sana diceritakan bagaimana Nabi Khidir AS membangun kembali sebuah dinding yang hampir roboh di sebuah desa yang penduduknya kikir. Ternyata, di bawah dinding tersebut tersimpan harta karun milik dua anak yatim.

    Mengapa Allah SWT mengutus seorang hamba pilihan seperti Nabi Khidir untuk menjaga harta tersebut? Jawabannya termaktub dalam firman-Nya:

    وَأَمَّا ٱلۡجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَٰمَيۡنِ يَتِيمَيۡنِ فِي ٱلۡمَدِينَةِ وَكَانَ تَحۡتَهُۥ كَنزٞ لَّهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَٰلِحٗا

    Dan adapun dinding rumah itu adalah milik dua anak yatim di kota itu, yang di bawahnya tersimpan harta bagi mereka berdua, dan ayahnya adalah seorang yang saleh.

    Para mufasir, termasuk Ibnu Abbas RA, menekankan bahwa kedua anak yatim tersebut mendapatkan perlindungan dan pemeliharaan Allah semata-mata karena kesalehan ayahnya.

    Dalam Tafsir Al-Baghawi disebutkan bahwa meski sang ayah sudah wafat, dampak dari amal salehnya tetap mengalir melindungi anak-anaknya. Bahkan, sebagian pendapat ulama menyatakan bahwa sosok “ayah saleh” tersebut bukanlah ayah kandung langsung, melainkan kakek ketujuh dari garis keturunan anak tersebut.

    Hal ini membawa pesan yang sangat kuat bahwa kebaikan yang dilakukan orang tua hari ini adalah semacam bentuk “asuransi” terbaik bagi anak cucu di masa depan. Allah SWT menjamin kesejahteraan keturunan orang-orang yang bertakwa.

    Muhammad bin al-Munkadir, seorang ulama besar dari kalangan tabiin, menyatakan bahwa Allah senantiasa menjaga karena kesalehan seorang hamba: anaknya, cucunya, keluarganya, bahkan lingkungan di sekitar rumahnya.

    Penjagaan Allah ini mencakup perlindungan dari marabahaya, kecukupan rezeki, hingga hidayah untuk tetap berada di jalan yang lurus. Jika orang tua menjaga batas-batas Allah, maka Allah akan menjaga apa yang paling berharga bagi orang tua tersebut, yakni anak-anaknya.

    Praktik ini terlihat nyata dalam kehidupan para pendahulu yang saleh. Said bin al-Musayyib, salah satu tokoh ulama terkemuka, pernah memberikan teladan yang sangat menyentuh. Beliau sering kali menambah durasi shalat sunnahnya dan beribadah lebih giat dengan niat yang spesifik.

    Beliau pernah berkata:

    إِنِّي ‌لَأُصَلِّي فَأَذْكُرُ وَلَدِي فَأَزِيدُ فِي صَلَاتِي

    Sesungguhnya aku sedang salat, lalu aku teringat anakku, maka aku pun menambah (memperpanjang) salatku.” Kalimat ini menunjukkan sebuah kesadaran spiritual yang tinggi bahwa seorang manusia memiliki keterbatasan dalam mengawasi anaknya selama dua puluh empat jam.

    Dengan memperkuat hubungan pribadinya kepada Allah, Said bin al-Musayyib menitipkan penjagaan anaknya kepada Dzat Yang Maha Menjaga. Ia menjadikan kesalehannya sebagai wasilah atau perantara untuk memohon perlindungan bagi keturunannya.

    Selain melalui jalur ibadah ritual, kesalehan orang tua juga harus mewujud dalam keteladanan karakter. Anak adalah peniru yang sangat ulung. Mereka lebih banyak belajar dari apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar.

    Tidak mengherankan jika ‘Utbah bin Sufyan pernah memberi nasihat kepada guru bagi anak-anaknya:

    لِيَكُنْ أَوَّلَ إِصْلَاحِكَ لِوَلَدِي ‌إِصْلَاحُكَ ‌لِنَفْسِكَ، فَإِنَّ عُيُوبَهُمْ مَعْقُودَةٌ بِعَيْبِكَ، فَالْحَسَنُ عِنْدَهُمْ مَا صَنَعْتَ، وَالْقَبِيحُ عِنْدَهُمْ مَا تَرَكْتَ

    Jadikanlah perbaikan dirimu sebagai awal perbaikan bagi anakku. Sebab cacat mereka terikat dengan cacatmu. Apa yang engkau lakukan dianggap baik oleh mereka, dan apa yang engkau tinggalkan dianggap buruk oleh mereka.” (Abbul Abbas Asy-Syuraisyi, Syarh al-Maqāmāt, III/368).

    Jika orang tua menginginkan anak yang jujur, maka mereka harus melihat kejujuran pada orang tuanya. Jika mereka mendambakan anak yang dermawan, maka tangan orang tua harus lebih dahulu ringan dalam memberi. Harta yang halal dan perilaku yang mulia dari orang tua akan menjadi nutrisi spiritual yang bersih bagi pertumbuhan karakter anak.

    Sebaliknya, perilaku yang buruk atau harta yang haram dapat menjadi “racun” yang merusak fitrah anak. Itulah mengapa kemaksiatan bisa berpengaruh kepada keluarga. Ada ungkapan yang biasa dinisbatkan kepada Fudhail bin Iyadh bahwa:

    إِنِّي لَأَعْصِي اللَّهَ فَأَرَى ذَلِكَ ‌فِي ‌خُلُقِ ‌دَابَّتِي، ‌وَامْرَأَتِي

    Sesungguhnya aku bermaksiat kepada Allah, lalu aku melihat akibatnya pada perangai tungganganku dan istriku.” (Ibn al-Qayyim, al-Dā’ wa al-Dawā’, 54). Kemaksiata yang dilakukan bisa berpengaruh negatif kepada keluarga bahkan anak dan binatang tunggangan.

    Di samping itu, penting untuk diketahui bahwa janji Allah bagi orang-orang yang saleh tidak hanya terbatas pada keselamatan diri sendiri. Dalam Surah Al-A’raf ayat 196, Allah berfirman bahwa Dia-lah pelindung bagi orang-orang yang saleh.

    Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa perlindungan ini meluas hingga ke tujuh turunan di bawahnya. Hal ini memberikan ketenangan bagi setiap orang tua di tengah zaman yang penuh dengan tantangan moral seperti sekarang.

    Jika kita khawatir dengan pergaulan bebas, dekadensi moral, atau tantangan zaman yang mengancam anak-anak, maka solusi utamanya bukanlah sekadar menambah pengamanan fisik atau fasilitas duniawi, melainkan memperbaiki hubungan kita sendiri dengan Sang Pencipta.

    Sebagai penutup, kita harus menyadari bahwa anak yang saleh adalah buah yang manis, namun ia tumbuh dari akar yang kuat. Akar itu adalah keimanan dan ketakwaan orang tua. Jangan pernah menuntut anak untuk menjadi saleh sementara kita sendiri mengabaikan kewajiban kepada Allah.

    Mari kita ikuti jejak para kekasih Allah dengan memperbagus shalat, menjaga kejujuran, dan memperbanyak amal kebaikan dengan niat agar Allah berkenan menjaga anak-cucu kita. Kesalehan orang tua adalah warisan paling berharga, jauh lebih mulia daripada harta benda, karena ia menjadi kunci pembuka rahmat Allah bagi generasi masa depan. Wallahu a’lam. (MBS)
    sumber : https://hidayatullah.com/

    RePost: Admin

  • Ibadah Qurban dalam Islam

    Ibadah Qurban dalam Islam

    Makna, Hukum, dan Keutamaannya

    Pendahuluan

    Ibadah qurban merupakan salah satu syariat penting dalam Islam yang dilaksanakan setiap tanggal 10 Dzulhijjah dan hari-hari tasyrik (11, 12, 13 Dzulhijjah). Qurban bukan sekadar penyembelihan hewan, tetapi juga bentuk ketaatan, keikhlasan, dan pengorbanan seorang hamba kepada Allah SWT.

    Ibadah ini memiliki akar sejarah yang kuat sejak zaman Nabi Ibrahim AS, yang diuji oleh Allah SWT untuk mengorbankan putranya, Nabi Ismail AS. Kisah ini menjadi simbol ketundukan total kepada perintah Allah.

    Dasar Hukum Ibadah Qurban

    1. Firman Allah SWT

    Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

    “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berqurbanlah.”
    (QS. Al-Kautsar: 2)

    Ayat ini menjadi dalil utama disyariatkannya qurban sebagai bentuk ibadah yang berdampingan dengan shalat.

    Selain itu, Allah SWT juga berfirman:

    “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.”
    (QS. Al-Hajj: 37)

    Ayat ini menegaskan bahwa esensi qurban adalah ketakwaan, bukan sekadar ritual penyembelihan.

    2. Hadits Nabi Muhammad SAW

    Rasulullah SAW bersabda:

    “Tidak ada suatu amalan yang dilakukan oleh manusia pada hari Nahr (Idul Adha) yang lebih dicintai Allah selain mengalirkan darah (hewan qurban)…”
    (HR. Tirmidzi)

    Dalam hadits lain, beliau juga bersabda:

    “Barang siapa yang memiliki kelapangan (rezeki) tetapi tidak berqurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami.”
    (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

    Hadits ini menunjukkan betapa besar keutamaan ibadah qurban bagi yang mampu.

    Hukum Ibadah Qurban

    Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum qurban:

    • Mayoritas ulama (jumhur): Sunnah muakkadah (sangat dianjurkan)
    • Mazhab Hanafi: Wajib bagi yang mampu

    Namun, semua sepakat bahwa qurban adalah ibadah yang sangat dianjurkan dan memiliki pahala besar.

    Tujuan dan Hikmah Qurban

    1. Mendekatkan Diri kepada Allah

    Qurban berasal dari kata “qaruba” yang berarti dekat. Ibadah ini bertujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

    2. Meneladani Nabi Ibrahim AS

    Ketaatan Nabi Ibrahim AS menjadi teladan dalam menjalankan perintah Allah tanpa ragu.

    3. Meningkatkan Kepedulian Sosial

    Daging qurban dibagikan kepada fakir miskin, sehingga mempererat solidaritas sosial.

    4. Melatih Keikhlasan dan Pengorbanan

    Seorang muslim belajar mengorbankan sebagian hartanya demi ketaatan kepada Allah.

    Syarat Hewan Qurban

    Hewan yang sah untuk qurban antara lain:

    • Kambing atau domba (minimal umur 1 tahun atau sudah cukup umur)
    • Sapi (minimal umur 2 tahun)
    • Unta (minimal umur 5 tahun)

    Hewan harus:

    • Sehat
    • Tidak cacat
    • Cukup umur

    Waktu Pelaksanaan Qurban

    Penyembelihan dilakukan:

    • Setelah shalat Idul Adha (10 Dzulhijjah)
    • Hingga hari tasyrik terakhir (13 Dzulhijjah)

    Rasulullah SAW bersabda:

    “Barang siapa menyembelih sebelum shalat (Id), maka itu hanyalah daging biasa, bukan qurban.”
    (HR. Bukhari dan Muslim)

    Pembagian Daging Qurban

    Daging qurban dianjurkan dibagi menjadi tiga bagian:

    1. Untuk diri sendiri dan keluarga
    2. Untuk kerabat dan tetangga
    3. Untuk fakir miskin

    Keutamaan Ibadah Qurban

    • Mendapat pahala besar di sisi Allah
    • Menghapus dosa
    • Menjadi bukti ketakwaan
    • Mendapat syafaat di hari kiamat (disebutkan dalam beberapa riwayat)

    Penutup

    Ibadah qurban bukan sekadar ritual tahunan, tetapi sarana untuk meningkatkan ketakwaan, keikhlasan, dan kepedulian sosial. Dengan melaksanakan qurban, seorang muslim tidak hanya mendekatkan diri kepada Allah SWT, tetapi juga berbagi kebahagiaan dengan sesama.

    Semoga kita semua diberikan kemampuan untuk melaksanakan ibadah qurban dengan penuh keikhlasan dan mendapatkan ridha Allah SWT. Aamiin.

  • Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual

    Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual

    Kemenangan Idul Fitri yang sejati bukanlah pada kemegahan visual atau pakaian baru, melainkan pada diterimanya amal dan meningkatnya ketaatan (istiqamah) pasca-Ramadhan.

    tengah tren “kesalehan lahiriah”, khutbah ini mengingatkan bahwa standar kemuliaan di sisi Allah adalah ketulusan hati yang membuahkan transformasi perilaku dari maksiat menuju ketaatan yang berkelanjutan.

    Khutbah Pertama     :

    اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ

    اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ لَنَا فِي الْإِسْلَامِ عِيدًا، وَأَجْزَلَ لَنَا فِيهِ فَضْلًا وَمَزِيدًا، وَمَنَّ عَلَيْنَا بِشَهْرِ رَمَضَانَ، وَرَزَقَنَا بَعْدَهُ شَهْرًا جَدِيدًا، وَتَعَبَّدَنَا فِيهِ بِالْقِيَامِ وَالصِّيَامِ، وَأَمَرَنَا أَنْ نَشْكُرَهُ، وَكَيْفَ لَا يُشْكَرُ وَلَهُ الْفَضْلُ عَلَى كُلِّ مَنْ صَامَ مِنَّا وَأَفْطَرَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، الْمُقَدَّسُ عَنِ الشَّبِيهِ وَالنَّظِيرِ، الْحَيُّ الْقَيُّومُ عَلَى خَلْقِهِ بِكَمَالِ الْقُدْرَةِ وَالتَّدْبِيرِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ خَيْرُ الْبَشَرِ الَّذِي أَعْطَاهُ رَبُّهُ مِنْ صِفَاتِ الْفَضْلِ مَا لَا يُحْصَى وَلَا يُحْصَرُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ صَلَاةً وَسَلَامًا إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْأَمْجَادِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

    Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamd.

    Hadirin Jamaah Idul Fitri yang Dirahmati Allah,

    Pagi ini, bumi bergema bukan karena gempa, melainkan karena getaran takbir yang membahana dari lisan hamba-hamba-Nya yang beriman. Kita berdiri di sebuah ambang pintu yang kita sebut sebagai “Hari Kemenangan”. Namun, di tengah hamparan pakaian baru, hidangan yang lezat, dan senyum yang merekah, mari kita sejenak menarik diri dari keriuhan fisik ini. Mari kita bertanya pada lubuk hati yang paling dalam: Siapakah pemenang yang sejati itu?

    Mari kita renungkan sebuah tamparan spiritual yang sangat keras dari seorang ulama besar, Imam Ibnu Rajab al-Hanbali, dalam kitabnya “Lathāif al-Ma’ārif”. Beliau menuliskan kalimat yang seharusnya membuat bulu kuduk kita merinding:

    لَيْسَ الْعِيدُ لِمَنْ لَبِسَ الْجَدِيدَ، إِنَّمَا الْعِيدُ لِمَنْ طَاعَاتُهُ تَزِيدُ. لَيْسَ الْعِيدُ لِمَنْ تَجَمَّلَ بِاللِّبَاسِ وَالرُّكُوبِ، إِنَّمَا الْعِيدُ لِمَنْ غُفِرَتْ لَهُ الذُّنُوبُ

    Hari raya bukanlah bagi orang yang berpakaian baru, tapi hari raya adalah bagi orang yang ketaatannya bertambah. Hari raya bukanlah bagi orang yang berhias dengan pakaian dan kendaraan, tapi hari raya adalah bagi orang yang dosa-dosanya diampuni.

    Jamaah yang Berbahagia,

    Kita hidup di zaman di mana citra seringkali dianggap lebih penting daripada realita. Kita hidup di era “Kesalehan Visual”. Kita merasa telah menjadi pemenang hanya karena kita berhasil mengunggah foto berbuka puasa yang indah, atau karena kita berhasil mengkhatamkan Al-Qur’an secara statistik namun hati tak tersentuh. Kita merasa sudah juara hanya karena berhasil melewati 30 hari tanpa makan dan minum secara fisik.

    Namun, ketahuilah, standar keberhasilan di sisi Allah SWT bukanlah pada “lelahnya fisik”, melainkan pada “diterimanya amal”. Allah SWT telah memancangkan sebuah standar baku dalam Al-Qur’an surah Al-Maidah ayat 27:

    إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

    “Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.”

    Ayat ini, hadirin sekalian, adalah ayat yang membuat punggung para Salafus Shalih (generasi terdahulu yang saleh) bergetar ketakutan. Mereka bukan orang-orang yang malas beribadah, namun mereka adalah orang-orang yang paling khawatir jika ibadah mereka yang menggunung itu ternyata hanya menjadi debu yang beterbangan karena tidak diterima oleh Allah.

    Fadhalah bin Ubaid ra. pernah mengeluarkan sebuah pernyataan yang sangat menyentuh: “Seandainya aku tahu Allah menerima dariku seberat biji sawi saja, itu lebih aku cintai daripada dunia dan seisinya.” Mengapa? Karena jika Allah menerima amal kita meski hanya sekecil biji sawi, itu adalah stempel resmi dari Allah bahwa kita termasuk golongan orang-orang yang bertakwa.

    Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamd.

    Coba kita bayangkan sosok Abdullah bin Umar ra. Suatu ketika, seorang pengemis datang kepadanya. Beliau kemudian memerintahkan anaknya untuk memberikan satu dinar kepada pengemis itu. Saat sang pengemis pergi, anaknya berkata dengan tulus, “Semoga Allah menerima amalmu wahai Ayah.”

    Mendengar doa anaknya, Ibnu Umar tidak lantas tersenyum bangga. Beliau justru menjawab dengan nada yang penuh perenungan:

    لَوْ عَلِمْتُ أَنَّ اللهَ يَقْبَلُ مِنِّي سَجْدَةً وَاحِدَةً، وَصَدَقَةَ دِرْهَمٍ لَمْ يَكُنْ غَائِبٌ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنَ المَوْتِ

    Seandainya aku tahu bahwa Allah menerima dariku satu sujud saja dan sedekah satu dirham, maka tidak ada sesuatu yang lebih aku cintai daripada kematian.” Beliau kemudian membacakan ayat tadi: “Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa.”

    Pelajaran besar bagi kita hari ini: Kita seringkali terlalu percaya diri (overconfident) bahwa puasa kita pasti diterima, shalat tarawih kita pasti berpahala, dan zakat kita pasti menggugurkan dosa. Padahal, tumpuan amal kita bukanlah pada seberapa keras kita memforsir tubuh, melainkan pada keikhlasan hati.

    Ad-Dhahhak pernah ditanya, apakah wanita yang sedang haid, musafir, atau orang yang tertidur memiliki nasib atau bagian di malam Lailatul Qadar? Beliau menjawab, “Ya, setiap orang yang diterima amalnya akan diberi bagian.” Ibnu Rajab kemudian menegaskan poin penting ini:

    المعَوَّلُ عَلَى القَبُولِ لاَ عَلَى الِاجْتِهَادِ، وَالِاعْتِبَارُ بِبِرِّ القُلُوبِ لاَ بِعَمَلِ الأَبْدَانِ. رُبٌّ قَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ قِيَامِهِ السَّهَرُ؛ كَمْ مِنْ قَائِمٍ مَحْرُومٍ، وَمِنْ نَائِمٍ مَرْحُومٍ؛ هَذَا نَامَ وَقَلْبُهُ ذَاكِرٌ، وَهَذَا قَامَ وَقَلْبُهُ فَاجِرٌ

    Tumpuannya adalah pada diterimanya amal, bukan pada (sekadar) kesungguhan. Ukurannya adalah pada kebaikan hati, bukan amal badan. Betapa banyak orang yang shalat malam tapi hanya dapat begadang; betapa banyak yang shalat tapi terhalang pahalanya, dan ada yang tidur tapi justru dirahmati. Yang ini tidur tapi hatinya terus berdzikir, sedangkan yang itu berdiri shalat tapi hatinya menyimpan kejahatan.

    Hadirin yang Dimuliakan Allah,

    Mari kita berkaca pada kualitas spiritual para pendahulu kita. Mereka bukan sekadar “beramal”, tapi mereka “menjaga amal”. Ibnu Dinar berkata:

    الخوفُ على العمل أن لا يُتَقَبَّلَ أشَدُّ مِن العَمَل

    Rasa takut bahwa amal tidak diterima itu jauh lebih berat daripada beban melakukan amal itu sendiri.

    Atha’ as-Sulaimi memberikan definisi tentang kewaspadaan (al-hadzar): “Waspada itu adalah menjaga amal agar jangan sampai bukan karena Allah.” Bahkan, Abdul Aziz bin Abi Rawwad menceritakan betapa para salaf bersungguh-sungguh beramal, namun setelahnya mereka dirundung kecemasan luar biasa: “Apakah diterima oleh Allah atau tidak?”

    Sedemikian pentingnya masalah “penerimaan” (qabul) ini, sebagian salaf dikisahkan berdoa selama 6 bulan sebelum Ramadhan agar dipertemukan dengan bulan suci tersebut. Namun yang lebih menakjubkan, mereka menghabiskan 6 bulan setelah Ramadhan hanya untuk berdoa agar amal-amal mereka di bulan tersebut diterima oleh Allah. Mereka tidak langsung “berpesta” secara rohani, mereka justru merunduk dalam harap dan cemas.

    Ingatlah khutbah legendaris Khalifah Umar bin Abdul Aziz ra. di hari Idul Fitri. Beliau berdiri di hadapan umat dan mengingatkan:

    أيُّها الناس! إنَّكم صُمتم لله ثلاثين يومًا، وقُمْتُم ثلاثين لَيلَةً، وخَرَجْتُم اليومَ تطلبون من الله أن يتقبَّل منكم.

    Wahai manusia! Kalian telah berpuasa 30 hari, shalat malam 30 malam, dan hari ini kalian keluar rumah hanya untuk satu tujuan: Memohon agar Allah menerima amalan kalian.

    Bahkan, sebagian salaf justru tampak bersedih di hari raya. Ketika orang-orang bertanya dengan heran, beliau menjawab: “Kalian benar, ini adalah hari bahagia. Tapi aku adalah seorang hamba yang baru saja diperintah oleh Majikanku (Allah) untuk melakukan suatu tugas besar, dan aku tidak tahu apakah tugasku itu diterima atau justru dilemparkan kembali ke wajahku?”

    Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamd.

    Hadirin, teguran keras juga datang dari Wuhaib bin al-Ward. Beliau pernah melihat sekelompok orang yang tertawa terbahak-bahak dan bermain-main secara berlebihan di hari Idul Fitri. Beliau menegur:

    إِنْ كَانَ هَؤُلَاءِ تُقُبِّلَ مِنْهُمْ صِيَامُهُمْ فَمَا هَذَا فِعْلُ الشَّاكِرِينَ، وَإِنْ كَانُوا لَمْ يُتَقَبَّلْ مِنْهُمْ صِيَامُهُمْ فَمَا هَذَا فِعْلُ الْخَائِفِينَ

    Jika mereka ini diterima puasanya, maka bukan begini cara orang bersyukur. Namun jika mereka tidak diterima puasanya, bukan begini pula cara orang yang merasa takut.

    Hasan al-Bashri juga memberikan perumpamaan yang indah. Beliau menyebut Ramadhan sebagai midmar atau arena pacu. Di arena ini, satu kaum berpacu dengan ketaatan lalu mereka menang (fazu), sementara kaum lain tertinggal karena kelalaian lalu mereka merugi (khabu). Maka sungguh ajaib jika ada orang yang masih bermain-main di hari penentuan pengumuman kemenangan ini.

    Ingatlah seruan Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra. di penghujung Ramadhan yang menggetarkan jiwa:

    يا ليتَ شِعْرِي! مَن هذا المقبول فنهنِّيه؟ ومَن هذا المحرومُ فنُعَزِّيه؟

    Duhai, andai aku tahu siapa yang diterima agar aku bisa memberi selamat, dan siapa yang ditolak agar aku bisa memberi belasungkawa!

    Ibnu Mas’ud ra. pun setali tiga uang, beliau berkata: “Siapa di antara kita yang diterima agar kita beri selamat, dan siapa yang terhalang agar kita hibur?”. Kecemasan para sahabat ini diabadikan dalam sebait syair yang sangat menyentuh:

    ليتَ شِعْرِي مَنْ فيه يُقْبَلُ مِنَّا … فيُهَنَّا يا خيبة المَرْدُودِ

    مَنْ تولَّى عنهُ بغيْرِ ‌قَبُولٍ … أَرْغَمَ اللهُ أَنْفَهُ بِخِزْيٍ شَدِيدِ

    Alangkah ingin aku tahu, siapakah di antara kita yang amalnya diterima, lalu ia berbahagia ; wahai celaka bagi yang tertolak.

    Barangsiapa berpaling dari-Nya tanpa diterima amalnya, maka Allah akan menempelkan hidungnya dengan kehinaan yang sangat berat.

    Jamaah yang Berbahagia,

    Setelah kita merenungkan betapa pentingnya penerimaan amal, timbul pertanyaan besar: Lantas, bagaimana tanda amalan kita diterima?

    Tanda paling nyata, tanda yang paling valid menurut para ulama adalah: ISTIQAMAH. Imam Ibnu Rajab menjelaskan dalam kitabnya (hal. 394):

    أن معاوَدَةَ الصِّيام بعدَ صِام رمضانَ علامةٌ على ‌قَبُولِ صَوْمِ رمضانَ؛ فإنَّ الله تعالى إذا تقبَّل عَمَلَ عَبْدٍ وفَّقَه لعمل صالحٍ بعدَه.

    Kembali berpuasa (Syawal) setelah Ramadhan adalah tanda diterimanya puasa Ramadhan. Karena jika Allah menerima amal seorang hamba, Allah akan memberi taufik (kemudahan) baginya untuk melakukan amal saleh setelahnya.

    Ada sebuah kaidah agung dalam Islam:

    ثوابُ الحسنةِ الحسنةُ بَعْدَها

    Pahala kebaikan adalah kebaikan setelahnya.”. Sebaliknya, tanda ditolaknya sebuah ketaatan adalah jika ketaatan itu langsung disambung dengan maksiat. Alangkah indahnya kebaikan yang melahirkan kebaikan, dan alangkah buruknya maksiat yang dilakukan tepat setelah ketaatan. Bahkan dikatakan, satu dosa yang dilakukan setelah bertaubat, nilainya lebih buruk daripada 70 dosa yang dilakukan sebelumnya.

    Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamd.

    Oleh karena itu, di hari yang fitri ini, mari kita deklarasikan diri kita untuk keluar dari zona maksiat menuju zona ketaatan. Mari kita berlindung dari kehinaan maksiat. Sebagaimana doa yang sering dipanjatkan oleh Imam Ahmad:

    اللهمَّ أعِزَّني بطاعتِكَ ولا تذلَّني بمعصيتِكَ

    “Ya Allah muliakan aku dengan taat kepada-Mu dan jangan hinakan aku dengan maksiat kepada-Mu.”

    Ibrahim bin Adham juga mengajarkan kita sebuah doa yang sangat kuat:

    اللهم انقلْنِي مِن ذُلِّ المعصيةِ إلى عزِّ الطاعةِ

    “Ya Allah, pindahkanlah aku dari rendahnya maksiat menuju mulianya ketaatan.” Karena sesungguhnya, takwa itulah sumber kemuliaan yang sejati.

    Takwa tidak mengenal kasta sosial. Sebagaimana disebutkan dalam syair:

    أَلا إِنَّمَا التَّقْوَى هِيَ العِزُّ وَالكَرَمْ … وَحُبُّكَ لِلدُّنْيَا هُوَ الذُّلُّ وَالسَّقَمْ

    وَلَيْسَ عَلَى عَبْدٍ تَقِيٍّ نَقِيصَةٌ … إِذَا حَقَّقَ التَّقْوَى وَإِنْ حَاكَ أَوْ حَجَمْ

    Ketahuilah, sesungguhnya takwa itulah kemuliaan dan kedermawanan,

    Sedangkan cintamu kepada dunia adalah kehinaan dan penyakit.

    Tidak ada aib bagi seorang hamba yang benar-benar bertakwa,

    Meskipun di mata manusia ia hanyalah seorang penjahit atau tukang bekam.

    Hadirin sekalian, mari kita akhiri ibadah Ramadhan kita dengan kerendahan hati. Mari kita saling mendoakan dengan ucapan yang dahulu diucapkan oleh para sahabat Nabi SAW saat mereka bertemu di hari raya:

    تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْك

    “Semoga Allah menerima amal kami dan amalmu.”

    Semoga Allah SWT menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang bukan hanya sekadar merayakan Idul Fitri secara lahiriah, tapi benar-benar meraih kemenangan batiniah yang diterima oleh Allah Rabbul ‘Alamin.

    بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

    Khutbah Kedua         :

    اَللهُ أَكْبَرُ (7x)

    اَلْحَمْدُ للهِ عَلَى إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ تَعْظِيْمًا لِشَأْنِهِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَإِخْوَانِهِ.

    Jamaah Idul Fitri yang dimuliakan Allah,

    Di khutbah yang kedua ini, marilah kita memantapkan tekad. Ramadhan telah pergi, namun Tuhan pemilik Ramadhan tidak pernah pergi. Jangan sampai kita menjadi hamba musiman yang hanya rajin sujud di bulan suci, namun kembali menjadi sombong di bulan-bulan lainnya.

    Kemenangan sejati hari ini adalah ketika kita mampu membawa “bau” Ramadhan ke dalam pasar kita, ke dalam kantor kita, ke dalam rumah tangga kita, dan ke dalam setiap helaan napas kita hingga Ramadhan tahun depan menjemput kita kembali atau hingga malaikat maut datang menjemput.

    Doa     :

    Marilah kita berdoa kepada Allah dengan penuh kekhusyukan.

    اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، وَاجْمَعْنَا بِهِمْ فِي دَارِ الْكَرَامَاتِ.

    اَللَّهُمَّ اجْعَلْ هَذَا الْعِيْدَ عِيْدَ بَرَكَةٍ وَسَعَادَةٍ، وَعِيْدَ مَغْفِرَةٍ وَرَحْمَةٍ، وَعِيْدَ أُلْفَةٍ وَمَحَبَّةٍ، وَعِيْدَ نَصْرٍ وَعِزَّةٍ لِلْإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ.

    اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَامَنَا، وَرُكُوْعَنَا وَسُجُوْدَنَا، وَصَدَقَاتِنَا وَزَكَاتِنَا، وَجَمِيْعَ أَعْمَالِنَا، وَاجْعَلْهَا خَالِصَةً لِوَجْهِكَ الْكَرِيْمِ.

    اَللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوْبَنَا مِنَ النِّفَاقِ، وَأَعْمَالَنَا مِنَ الرِّيَاءِ، وَأَلْسِنَتَنَا مِنَ الْكَذِبِ، وَأَعْيُنَنَا مِنَ الْخِيَانَةِ، فَإِنَّكَ تَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُوْرُ.

    اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا فِي هَذَا الْعِيْدِ مِنَ الْمَقْبُوْلِيْنَ، وَمِنَ الْمُعْتَقِيْنَ مِنَ النَّارِ، وَمِنَ الْمُفُوْزِيْنَ بِرِضْوَانِكَ وَجَنَّاتِكَ.

    اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، وَاجْمَعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الْحَقِّ وَالْهُدَى، وَارْزُقْهُمُ الْقُوَّةَ وَالْعِزَّةَ وَالنَّصْرَ عَلَى أَعْدَائِكَ وَأَعْدَائِهِمْ.

    رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ.

    رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

    وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

    عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

    (MBS), Redaktur : Mahmud ,

    Repost: AdminPondokYatim

  • KJPP Agus Firdaus Berbagi Kepedulian, Buka Puasa Bersama dan Santunan Yatim

    KJPP Agus Firdaus Berbagi Kepedulian, Buka Puasa Bersama dan Santunan Yatim

    Keluarga besar Pondok Yatim Istiqomah menghadiri undangan buka puasa bersama yang diselenggarakan oleh KJPP Agus Firdaus pada Jumat, 13 Maret 2026. Kegiatan yang berlangsung penuh kehangatan ini digelar di Resto Cabe Ijo Kota Bintang dan dihadiri oleh pimpinan serta seluruh staf karyawan KJPP Agus Firdaus.

    Acara buka puasa bersama tersebut menjadi momen istimewa untuk mempererat silaturahmi antara pihak KJPP Agus Firdaus dengan anak-anak yatim serta para pengurus Pondok Yatim Istiqomah. Sejak awal kegiatan, suasana kekeluargaan dan kebersamaan begitu terasa di antara seluruh tamu undangan yang hadir.

    Turut hadir dalam kegiatan tersebut Bapak Erwin, Bapak Agus, serta Ibu Hepta yang bersama seluruh staf dan karyawan KJPP Agus Firdaus menyambut hangat kedatangan anak-anak dari Pondok Yatim Istiqomah. Kehadiran para pimpinan dan karyawan menunjukkan komitmen perusahaan dalam menjalin hubungan sosial yang harmonis dengan masyarakat.

    Tidak hanya sekadar berbuka puasa bersama, kegiatan ini juga diisi dengan pemberian santunan kepada anak-anak yatim dan kaum dhuafa. Santunan tersebut diberikan sebagai bentuk kepedulian dan perhatian kepada mereka yang membutuhkan, sekaligus menghadirkan kebahagiaan di bulan suci Ramadan.

    Dalam kesempatan tersebut, pihak KJPP Agus Firdaus menyampaikan bahwa kegiatan berbagi seperti ini merupakan bagian dari nilai kemanusiaan dan tanggung jawab sosial yang ingin terus dijaga. Melalui kegiatan santunan dan kebersamaan ini diharapkan dapat memberikan manfaat serta semangat bagi anak-anak yatim.

    Anak-anak dari Pondok Yatim Istiqomah tampak antusias dan bahagia mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Selain menikmati hidangan berbuka puasa, mereka juga merasakan kehangatan kebersamaan yang tercipta antara para tamu undangan dan para karyawan KJPP Agus Firdaus.

    Acara kemudian ditutup dengan doa bersama menjelang waktu berbuka puasa. Suasana penuh syukur dan kebahagiaan mengiringi berakhirnya kegiatan tersebut, dengan harapan semangat berbagi dan kepedulian sosial ini dapat terus berlanjut serta membawa berkah bagi semua pihak yang terlibat.

  • 5 Pelajaran Penting Ramadhan Bagi Diri Mu’min

    5 Pelajaran Penting Ramadhan Bagi Diri Mu’min

    Bulan Ramadan merupakan sekolah spiritual yang memberikan banyak pelajaran berharga bagi umat Muslim untuk memperbaiki diri. Berikut adalah beberapa pelajaran utama yang dapat diambil dari bulan Ramadan: 

    1. Meningkatkan Ketakwaan dan Kesadaran Spiritual 

    Tujuan utama puasa adalah agar umat Muslim menjadi orang yang bertakwa (QS. Al-Baqarah: 183). Ramadan melatih kita untuk selalu merasa diawasi oleh Allah SWT, yang membantu meningkatkan kesadaran spiritual dalam kehidupan sehari-hari. 

    2. Melatih Kesabaran dan Pengendalian Diri

    Puasa bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi juga sarana untuk mengendalikan hawa nafsu, emosi, dan tindakan yang membatalkan pahala. Ini membangun ketahanan diri, ketabahan, dan kedamaian batin yang mendalam. 

    3. Menumbuhkan Kepekaan Sosial dan Rasa Syukur 

    Dengan merasakan rasa lapar, Ramadan menanamkan empati terhadap mereka yang kurang beruntung. Hal ini mendorong umat Muslim untuk lebih peduli dan berbagi kepada sesama melalui zakat, infak, dan sedekah. Selain itu, kita diajarkan untuk lebih menghargai nikmat sekecil apa pun yang telah diberikan. 

    4. Kedisiplinan dan Manajemen Waktu

    Ramadan menuntut keteraturan hidup yang ketat, mulai dari waktu sahur, ibadah tepat waktu, hingga berbuka puasa. Pola ini melatih kedisiplinan dan manajemen waktu yang sangat bermanfaat bagi produktivitas pribadi maupun profesional.

    5. Pembersihan Hati dan Jiwa 

    Bulan ini merupakan momentum untuk membersihkan jiwa dari penyakit hati seperti iri hati, kesombongan, dan dendam. Ramadan juga dianggap sebagai bulan “pembakar” dosa masa lalu, memberikan kesempatan bagi setiap individu untuk bertaubat dan menjadi pribadi yang lebih bersih. 

    Oleh: Ust. Suprapto (Ketua Pondok Yatim Istiqomah)
    Post: admin

  • Optimalkan Amalan Penting di 10 Hari Terakhir Ramadan

    Optimalkan Amalan Penting di 10 Hari Terakhir Ramadan

    عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْتَهِدُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مَا لَا يَجْتَهِدُ فِي غَيْرِهِ. (رواه مسلم) 

    “Dari Aisyah RA, Rasulullah SAW sangat bersungguh-sungguh (beribadah) pada sepuluh hari terakhir (bulan ramadhan), melebihi kesungguhan beribadah di selain (malam) tersebut. (HR. Muslim) 

    Penjelasan Hadis

    Hadis ini menunjukkan keutamaan semangat beribadah di 10 hari terakhir Ramadan. Hadis ini menceritakan sosok baginda Nabi Muhammad SAW sebagai manusia yang paling giat dalam meraih ridha` Allah SWT dengan bersungguh-sungguh memanfaatkan waktu-waktu penuh keutamaan dengan meningkatkan kualitas ketaatan, beribadah, bertaqarrub, beri’tikaf, dan mengajak anggota keluarga untuk beribadah. Kesungguhan beliau beribadah di 10 hari terakhir Ramadan melebihi kesungguhan beribadah di waktu selainnya. 

    Kalimat “bersungguh-sungguh (beribadah) pada sepuluh hari terakhir” menunjukkan anjuran untuk tidak kendor dalam beribadah di akhir Ramadan sebagaimana fakta di masyarakat. Hadis ini menunjukkan keistiqamahan beliau dalam giat beribadah sepanjang Ramadan. Semua hari di bulan Ramadan sangat istimewa dan semua muslim disarankan untuk melakukan ibadah dengan baik. Namun, 10 hari terakhir Ramadan sangat istimewa. Ada banyak keutamaan di sepertiga bulan terakhir itu hingga Rasulullah pun mengencangkan ibadahnya. 

    Setidaknya, kesungguhan beliau ini disebabkan beberapa faktor, antara lain: 

    Pertama, sepuluh hari terakhir merupakan penutup bulan Ramadan yang penuh berkah. Dan setiap amalan manusia dinilai dari amalan penutupnya. 

    Kedua, 10 malam terakhir adalah malam-malam yang paling dicintai oleh Rasulullah SAW. 

    Ketiga, kerinduan akan keindahan lailatul qadar atau malam kemuliaan yang keutamaan beribadahnya melebihi beribadah sepanjang 1000 bulan. 

    Keempat, beliau memberikan contoh kepada umatnya agar tidak terlena dalam kesibukan mempersiapkan kebutuhan hari raya sehingga melupakan keutamaan beribadah di 10 hari terakhir. 

    Kalimat “melebihi kesungguhan beribadah di selain (malam) tersebut” sebagai anjuran dan keteladanan Rasulullah SAW dalam memotivasi umatnya untuk menambah giat beribadah di 10 hari terkahir Ramadan dengan mencontohkan beberapa amalan utama, antara lain: 

    1. Memperpanjang Shalat Malam 

    Pada 10 malam terakhir, Rasulullah SAW tidak tidur, lambung beliau dan para sahabat amat jauh dari tempat tidur. Beliau menghidupkan malam-malam tersebut untuk beribadah, shalat, zikir, dan lain-lain hingga waktu fajar. Kebiasaan beribadah di 10 malam terakhir ditularkan kepada seluruh anggota keluarga beliau untuk sama-sama menikmati kesyahduan beribadah sepanjang malam. Sebagaimana penuturan Aisyah RA, 

    “Rasulullah SAW biasa ketika memasuki 10 Ramadan terakhir, beliau kencangkan ikat pinggang (bersungguh-sungguh dalam ibadah), menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah, dan membangunkan istri-istrinya untuk beribadah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim) 

    2. Memperbanyak Sedekah 

    Meningkatkan sedekah menjadi salah satu amalan utama di 10 hari terakhir sebagai ungkapan syukur atas nikmat dipertemukan Ramadan, serta sebagai penyempurna ibadah puasa dan ibadah-ibadah individu lainnya. Karena tidaklah sempurna keimanan dan kualitas ibadah seseorang kecuali jika adanya keseimbangan antara ibadah ritual dan ibadah sosial. Sebagaimana firman Allah SWT, 

    “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan penuh harap, dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (Qs. As-Sajdah: 16). 

    Bersedekah di 10 hari terakhir tidak hanya diterjemahkan dengan sedekah wajib berupa zakat fitrah dan zakal mal, tetapi juga dianjurkan memperbanyak sedekah sunnah dalam rangka berbagi kebahagiaan dan memberikan bekal makanan di hari raya Idul Fitri bagi dhuafa. Bersedekah dapat berbentuk harta, pangan, pakaian, paket sedekah untuk yatim dan dhuafa, dan lain sebagainya. 

    3. I’tikaf 

    I’tikaf berarti berdiam di masjid dalam rangka beribadah kepada Allah SWT. Tidaklah seseorang keluar dari masjid, kecuali untuk memenuhi hajatnya sebagai manusia. I’tikaf memiliki kekhususan tempat dan aktivitas yaitu masjid dengan aktivitas ibadah mendekatkan diri kepada Allah dengan berdzikir, berdo’a, membaca Al-Quran, shalat sunnah, bershalawat, bertaubat, beristigfar, dan lainnya. I’tikaf dianjurkan setiap waktu, tetapi lebih ditekankan memasuki sepuluh malam terakhir Ramadhan sebagaimana penuturan Abdullah bin Umar RA, 

    Rasulullah SAW beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan ramadan. (HR. Muttafaq ‘alaih) 

    Di masa pandemi Covid19 ini, kemungkinan sebagian umat Islam tidak dapat beri’tikaf di masjid, akan tetapi seluruh aktivitas i’tikaf dapat dilakukan di rumah. Jika ingin tetap melakukan i’tikaf secara individu di masjid, maka hendaklah dilakukan dengan memenui protokol kesehatan seperti berbadan sehat, membawa sajadah sendiri, memakai masker, berwudhu kembali di masjid, dan tidak bersalaman. 

    4. Tilawah Al Qur’an 

    Meningkatkan membaca Al-Qur’an menjadi salah satu ibadah utama di 10 hari terakhir Ramadan. Tidak sedikit umat Islam yang larut dalam tilawah Al-Qur’an sepanjang malam baik di masjid maupun di rumah. Tilawah Al-Qur’an adalah ibadah ringan dan memiliki keutamaan yang besar.Tradisi mengejar khataman Al-Qur’an di akhir Ramadhan menjadi kebahagiaan tersendiri bagi pribadi muslim, khususnya mereka yang setiap hari bergulat dengan aktivitas pekerjaan, sehingga khataman Al-Qur’an sebanya satu kali menjadi target realistis. Apapun bentuk motivasinya, tilawah Al-Qur’an harus lebih digiatkan di 10 hari terakhir Ramadan. 

    Itulah beberapa amalan penting di 10 hari terakhir bulan Ramadan. Marilah kita manfaatkan, karena detik-detik 10 malam terakhir amatlah mahal, janganlah dimurahkan dengan kelalaian. Mari kita giatkan beribadah baik di masjid maupun di rumah, dan sisipkanlah doa dalam munajatmu untuk bangsa Indonesia agar pandemi Covid-19 segera berakhir. Aamiin 

    Sekian, semoga bermanfaat. 

    Oleh : H. Subhan Nur, Lc, M.Ag 

    (Kepala Seksi Pengembangan Metode dan Materi Dakwah Dit. Penerangan Agama Islam)

    Re-Post : AdminPondokYatim

  • PT Pertamina Lubricants Salurkan THR untuk Santri Pondok Yatim Istiqomah

    PT Pertamina Lubricants Salurkan THR untuk Santri Pondok Yatim Istiqomah

    ​BEKASI – Kepedulian terhadap sesama kembali ditunjukkan oleh sektor korporasi melalui aksi sosial yang menyasar anak-anak yatim dan dhuafa. Pada Senin, 9 Maret 2026, PT Pertamina Lubricants melaksanakan kunjungan silaturahmi ke Pondok Yatim Istiqomah. Kegiatan yang berlangsung pada pukul 15.30 WITA ini menjadi momen berbagi kebahagiaan di tengah rutinitas operasional perusahaan.

    ​Rombongan dari PT Pertamina Lubricants hadir sebanyak 3 orang perwakilan yang dipimpin langsung oleh Ibu Ana. Kehadiran tim disambut hangat oleh pengurus dan para santri yang telah menanti di area pondok. Suasana sore hari tersebut tampak penuh keakraban saat perwakilan perusahaan berdialog langsung dengan anak-anak yatim mengenai aktivitas keseharian mereka di pondok.

    ​Fokus utama dari kunjungan kali ini adalah penyaluran hadiah Tunjangan Hari Raya (THR) yang ditujukan khusus bagi 50 santri yatim dan dhuafa di Pondok Yatim Istiqomah. Pemberian santunan tunai ini diharapkan dapat memberikan keceriaan dan membantu persiapan para santri dalam menyambut hari kemenangan dengan penuh suka cita.

    ​Ibu Ana, selaku pimpinan rombongan dari PT Pertamina Lubricants, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk terus hadir di tengah masyarakat yang membutuhkan. Beliau berharap bantuan yang diberikan tidak hanya bernilai materi, tetapi juga menjadi dorongan semangat bagi para santri untuk terus tekun belajar dan beribadah.

    ​Pihak Pondok Yatim Istiqomah mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih atas perhatian konsisten yang diberikan oleh pihak swasta maupun BUMN. Acara diakhiri dengan doa bersama untuk keberkahan usaha PT Pertamina Lubricants serta kelancaran seluruh pegawainya dalam menjalankan tugas melayani kebutuhan pelumas nasional.

    By: AdminPondokYatim

  • Berbagi Kebahagiaan, KKB BNI Wilayah 15 Kunjungi Pondok Yatim Istiqomah

    Berbagi Kebahagiaan, KKB BNI Wilayah 15 Kunjungi Pondok Yatim Istiqomah

    ​BEKASI – Ikatan Kesejahteraan Keluarga (KKB) BNI Wilayah 15 menunjukkan kepedulian sosialnya melalui aksi nyata berbagi kepada sesama. Pada Kamis, 12 Maret 2026, rombongan ibu-ibu pengurus KKB BNI Wilayah 15 melaksanakan kunjungan silaturahmi ke Pondok Yatim Istiqomah. Kegiatan yang dimulai tepat pukul 10.00 WIB ini berlangsung dengan khidmat dan penuh kehangatan.

    ​Kunjungan ini merupakan bentuk tanggung jawab sosial serta wujud kasih sayang organisasi kepada anak-anak yatim. Sebanyak 10 orang perwakilan dari KKB BNI Wilayah 15 hadir secara langsung untuk berinteraksi dan melihat kondisi para santri di pondok tersebut. Kehadiran mereka disambut dengan antusiasme dan senyum ceria dari para penghuni Pondok Yatim Istiqomah.

    ​Dalam kesempatan tersebut, KKB BNI Wilayah 15 menyalurkan bantuan berupa 50 paket sembako yang berisi bahan pangan pokok untuk kebutuhan operasional pondok. Tidak hanya bantuan logistik, perwakilan ibu-ibu KKB juga memberikan santunan berupa uang saku kepada para santri. Bantuan ini diharapkan dapat membantu meringankan kebutuhan harian serta memberikan semangat bagi anak-anak dalam menuntut ilmu.

    ​Pihak pengelola Pondok Yatim Istiqomah menyampaikan apresiasi yang mendalam atas perhatian yang diberikan oleh keluarga besar BNI. Menurut mereka, dukungan seperti ini sangat berarti bagi kelangsungan pembinaan para santri, baik secara fisik maupun mental. Momen ini juga diisi dengan doa bersama agar keluarga besar BNI senantiasa diberikan keberkahan dan kelancaran dalam menjalankan tugasnya.

    ​Kegiatan ini ditutup dengan sesi foto bersama dan ramah tamah antara pengurus KKB BNI Wilayah 15 dengan para santri dan pengasuh pondok. Aksi sosial ini menjadi salah satu agenda rutin yang mengedepankan nilai-nilai empati dan kebersamaan. Dengan semangat berbagi, KKB BNI Wilayah 15 berharap dapat terus menebar manfaat bagi masyarakat luas di masa mendatang.

    By: AdminPondokYatimIstiqomah

  • 10 Amalan Sunnah di Bulan Ramadhan, Pahala dan Kesempurnaan Puasa

    10 Amalan Sunnah di Bulan Ramadhan, Pahala dan Kesempurnaan Puasa

    Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah dan ampunan. Di bulan ini, umat Muslim dianjurkan untuk meningkatkan ibadah, baik yang wajib maupun yang sunnah. Di bulan Ramadhan juga, semua amal baik akan dilipatgandakan.

    Melansir dari NU Online yang ditulis oleh Muhamad Abror, terdapat 10 amalan sunnah yang dapat dikerjakan untuk mengisi bulan Ramadhan, di antaranya:

    1. Melaksanakan sahur Salah satu sunnah di bulan Ramadhan adalah melaksanakan sahur. Waktu sahur yang paling utama adalah di akhir malam, mendekati imsak. Sebagaimana sabda Rasulullah:

    لَا تَزَالُ أُمَّتِي بِخَيْرٍ مَا أَخَّرُوا السَّحُورَ وَعَجَّلُوا الْفِطْرَ Artinya, “Umatku senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka mengakhirkan sahur dan menyegerakan berbuka.” (HR Ahmad).

    2. Menyegerakan berbuka puasa Saat adzan maghrib berkumandang, bersegeralah untuk membatalkan puasa. Sunnahnya adalah memakan buah kurma, namun apabila tidak ada, air putih juga bisa digunakan untuk membatalkan puasa.

    3. Membaca doa saat berbuka puasa Salah satu sunah yang dianjurkan saat berbuka puasa adalah membaca doa. Ada beberapa doa yang bisa dibaca, di antaranya:

    اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِك آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلَتُ ذَهَبَ الظَّمَأُ، وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ يَا وَاسِعَ الْفَضْلِ اِغْفِرْ لِي اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِي هَدَانِي فَصُمْتُ وَرَزَقَنِي فَأَفْطَرْتُ Baca Atau doa yang lebih masyhur berikut:

    اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِك آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

    4. Mandi besar Sebelum fajar menyingsing, disunnahkan untuk mandi besar (junub, haid, atau nifas) agar ibadah dapat dilaksanakan dalam keadaan suci. Selain itu, mandi sebelum fajar juga menghindari risiko air masuk ke dalam tubuh saat berpuasa.

    5. Menjaga ucapan Di bulan Ramadhan, sangat dianjurkan untuk menjaga ucapan agar tidak mengeluarkan perkataan yang tidak berguna, apalagi yang dapat menyebabkan dosa, karena hal tersebut dapat mengurangi pahala dari ibadah puasa.

    6. Menghindari hal-hal yang tidak sejalan dengan hikmah puasa Umat Islam sebaiknya menjauhi tindakan yang bertentangan dengan hikmah puasa, walaupun tidak membatalkan puasa. Salah satu contohnya ialah makan berlebihan saat berbuka atau mengikuti keinginan hawa nafsu.

    7. Memperbanyak bersedekah Di bulan puasa, umat Islam sangat dianjurkan untuk lebih sering bersedekah kepada sesama, terutama dengan memberikan makanan atau minuman untuk berbuka. Hal ini dikarenakan, orang yang menyediakan hidangan berbuka bagi orang lain akan mendapatkan pahala yang sama besarnya dengan pahala puasa orang yang menerima sedekah tersebut.

    8. Memperbanyak i’tikaf di masjid Memperbanyak i’tikaf di masjid merupakan sunnah yang sangat dianjurkan. I’tikaf yang paling utama adalah dilakukan selama sebulan penuh Ramadhan. Namun, apabila hal tersebut tidak dapat dilakukan, maka sepuluh hari terakhir Ramadhan adalah waktu yang sangat dianjurkan, mengingat pada periode tersebut terdapat malam Lailatul Qadar.

    9. Memperbanyak membaca Al-Qur’an Bulan Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk meningkatkan interaksi dengan Al-Qur’an. Salah satu amalan sunnah yang sangat dianjurkan adalah memperbanyak membaca Al-Qur’an. Usahakan untuk setidaknya mengkhatamkan Al-Qur’an sekali selama bulan Ramadhan, bisa lebih dari itu jika memungkinkan, karena semakin banyak khatam akan semakin baik, sebagaimana yang dianjurkan oleh para ulama.

    10. Konsisten dalam menjalankan ibadah Yang terpenting dalam beribadah adalah istikamah atau konsistensi. Artinya, semua amalan sunnah yang dikerjakan di bulan Ramadhan hendaknya dikerjakan juga di bulan lain, agar tidak terputus setelah bulan suci ini berlalu.

    Editor: Umi Kholifah

    Kontributor: Feni Kusumaningrum

    Re-Post : AdminPondokYatim

  • Susah Payah Puasa cuma Dapat Lapar dan Dahaga

    Susah Payah Puasa cuma Dapat Lapar dan Dahaga

    Hidayatullah.com – Bisa jadi masih ada yang menganggap bahwa puncak dari ibadah puasa adalah sekadar keberhasilan menahan godaan aroma makanan, segarnya minuman di siang hari terlebih hubungan intim suami-istri. Namun, para ulama salaf terdahulu mengingatkan bahwa: sekadar meninggalkan makan dan minum adalah tingkatan puasa yang paling ringan. Puasa sejati bukanlah tentang mengosongkan perut semata, melainkan tentang bagaimana seseorang mampu mengendalikan seluruh panca inderanya agar selaras dengan nilai-nilai ketakwaan.

    Sahabat Jabir bin Abdillah Ra. memberikan tuntunan yang sangat mendalam untuk diperhatikan bagi orang yang berpuasa: saat perutmu berpuasa, maka pendengaran, penglihatan, serta lisanmu pun harus ikut berpuasa dari dusta dan segala hal yang diharamkan. Jangan sampai hari saat kita berpuasa memiliki kualitas yang sama saja dengan hari-hari biasa saat kita tidak berpuasa. Seorang muslim diharapkan tampil dengan penuh wibawa dan ketenangan (sakina), bukan justru menjadi lebih pemarah atau tidak terkendali hanya karena sedang merasa lapar.

    Sebuah bait syair dalam kitab “Lathā’iful Ma’ārif” (Ibnu Rajab, 292) menggambarkan kerugian besar ini dengan sangat puitis:

    إِذَا لَمْ يَكُنْ فِي السَّمْعِ مِنِّي تَصَاوُنٌ

    وَفِي بَصَرِي غَضٌّ وَفِي مَنْطِقِي صَمْتٌ

    Jika tidak ada penjagaan dari pendengaran saya, tidak ada menundukkan pandangan saya, dan tidak ada diam dalam ucapan saya,

    فَحَظِّي إِذًا مِنْ صَوْمِي الْجُوعُ وَالظَّمَا

    فَإِنْ قُلْتُ إِنِّي صُمْتُ يَوْمِي فَمَا صُمْتُ

    maka bagian saya dari puasa hanyalah lapar dan dahaga. Jika saya berkata bahwa saya berpuasa hari ini, sesungguhnya saya tidak berpuasa.

    Jadi, jika telinga tidak terjaga, mata tidak menunduk, dan lisan tidak diam dari dosa, maka keberuntungan yang didapat dari puasa hanyalah rasa haus dan lapar semata. Secara hukum fiqih, puasa tersebut mungkin dianggap sah dan tidak perlu diulangi menurut mayoritas ulama, namun secara esensi dan pahala, pelakunya dianggap “tidak berpuasa” karena telah merusak makna ibadah tersebut.

    Ramadhan adalah madrasah takwa yang bertujuan menempa orang yang menunaikannya  bisa naik dari sekadar level fisik. Nabi Muhammad SAW sendiri telah memperingatkan tentang banyaknya orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan apa pun kecuali rasa lapar, serta mereka yang shalat malam namun hanya mendapatkan kantuk. Ini sangat relevan bila dikaitkan dengan situasi kekinian di era digital: ketika ibadah banyak tergerus nilainya karena sudah tidak lagi didasari iman dan harapan kepada Allah; hanya sekadar untuk pamer, kejar tayang konten dan semacamnya. Sangat panjadi mengendalikan diri dari yang halal (seperti makan dan minum); tapi tidak bisa menjaga diri dari ghibah digital, penyebaran hoaks melalui media sosial dan tidak bisa menjaga mata dari konten haram.

    Rahasia di balik fenomena ini adalah ketimpangan dalam prioritas ibadah. Mendekatkan diri kepada Allah dengan meninggalkan hal-hal yang mubah (makan dan minum) tidak akan pernah sempurna jika kita belum mampu menjauhi hal-hal yang pada dasarnya memang haram. Ini ibarat orang yang sibuk mengejar amalan sunnah namun justru melalaikan kewajiban yang paling mendasar. Shalawat tarawih semangat, tapi shubuhnya kesiangan di rumah dan masih banyak fenomena serupa lainnya.

    Dalam sejarah Islam, ada kisah sangat  terkait dua wanita di zaman Nabi SAW yang hampir mati karena kehausan saat berpuasa. Ketika diperintahkan untuk muntah, mereka mengeluarkan darah, nanah, dan potongan daging segar. Mungkin ada yang penasaran bertanya: bukankah keduanya secara kasat mata terlihat salehah dan taat menjalankan ibadah puasa, tapi mengapa bisa mengalami nasib semenyedihkan itu?

    Ternyata, meski mereka menahan diri dari apa yang Allah halalkan (makanan), mereka justru “berbuka” dengan apa yang Allah haramkan, yaitu memakan daging saudaranya sendiri melalui ghibah (menggunjing). Nabi Muhammad SAW dengan sangat tegas mengatakan:

    إِنَّ ‌هَاتَيْنِ ‌صَامَتَا ‌عَمَّا ‌أَحَلَّ ‌اللهُ ‌لَهُمَا، وَأَفْطَرَتَا عَلَى مَا حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِمَا، جَلَسَتْ إِحْدَاهُمَا إِلَى الْأُخْرَى، فَجَعَلَتَا يَأْكُلَانِ لُحُومَ النَّاسِ

    Sesungguhnya dua wanita ini berpuasa dari apa yang Allah halalkan bagi mereka, tetapi berbuka dengan apa yang Allah haramkan atas mereka. Salah satunya duduk bersama yang lain, lalu keduanya mulai memakan daging manusia (yakni menggunjing orang lain).” (HR. Ahmad) Kisah ini menjadi peringatan keras bahwa kemaksiatan lisan dapat menghanguskan esensi puasa secara mengerikan.

    Hal ini pula yang menjelaskan mengapa dalam Al-Qur’an, larangan memakan harta orang lain dengan cara yang batil sering kali disebutkan berdekatan dengan hukum puasa. Pesannya jelas: jika seseorang mampu menaati perintah Allah untuk meninggalkan makanan yang halal di siang hari, seharusnya ia jauh lebih mampu untuk meninggalkan harta haram yang dilarang di setiap waktu dan keadaan.

    Ibnu Rajab mengungkap rahasia di baliknya, “Sesungguhnya mendekatkan diri kepada Allah dengan meninggalkan hal-hal yang mubah tidaklah sempurna kecuali setelah mendekatkan diri kepada-Nya dengan meninggalkan hal-hal yang haram. Maka barangsiapa melakukan hal-hal yang haram lalu berusaha mendekatkan diri dengan meninggalkan hal-hal yang mubah, ia seperti orang yang meninggalkan kewajiban tetapi mendekatkan diri dengan amalan sunnah. Walaupun puasanya tetap dianggap sah menurut mayoritas ulama sehingga tidak diperintahkan untuk mengulanginya; karena suatu amal hanya batal bila dilakukan hal yang dilarang khusus terkait ibadah itu, bukan karena melakukan hal yang dilarang secara umum. Inilah pendapat pokok mayoritas ulama.”

    Puasa adalah latihan integritas agar kita tidak sekadar bersusah payah menahan lapar dan dahaga, namun benar-benar meraih ridha-Nya. Kuncinya, dengan menjauhkan diri dari segala yang haram atau apa saja yang bisa merusak puasa. Al-Hafizh Ibnu Jauzi Rahimahullah pernah menyatakan kalimat penuh hikmah, “Semoga Allah merahmati orang yang tidak merusak ibadah yang ia persembahkan kepada hadirat Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang dengan satu suapan makanan haram, yang kelak akan berakhir dengan makanan dari pohon zaqqum dan minuman dari air mendidih. Sesungguhnya itu adalah kata-kata (peringatan) yang tidak akan dianggap indah kecuali oleh tabiat yang hina.” (at-Tadzkirah fīal-Wa’di, 125) (MBS)

    Baca Juga

    Kisah Jenaka Bulan Puasa 4 : Ghundar dan “Bonus” Puasa Lupa

     Memantaskan Diri Meraih Lailatul Qadar

     Teladan Keteguhan Imam Ahmad dan Kasman Singodimedjo pada Bulan Ramadhan

     Seribu Dirham Ramadhan dan Ujian Keikhlasan

     Menundukkan Nafsu di Bulan Suci: Belajar dari Muhammad bin ‘Amr al-Ghazzi