SETIAP orang tua mendambakan anak yang saleh dan salehah; sosok yang mendoakan saat mereka tiada dan menjadi penyejuk mata saat mereka masih ada. Hanya saja, sering kali kita lupa bahwa kesalehan anak bukanlah peristiwa yang terjadi secara kebetulan.
Kesalehan anak merupakan sebuah kesinambungan spiritual yang berakar dari integritas moral orang tuanya. Dalam tradisi Islam, terdapat korelasi yang sangat kuat antara kualitas ketakwaan orang tua dengan masa depan keturunannya, baik dalam aspek keselamatan dunia maupun akhirat.
Pelajaran ini didapat dari kisah Al-Qur’an, tepatnya pada Surah Al-Kahfi ayat 82. Di sana diceritakan bagaimana Nabi Khidir AS membangun kembali sebuah dinding yang hampir roboh di sebuah desa yang penduduknya kikir. Ternyata, di bawah dinding tersebut tersimpan harta karun milik dua anak yatim.
Mengapa Allah SWT mengutus seorang hamba pilihan seperti Nabi Khidir untuk menjaga harta tersebut? Jawabannya termaktub dalam firman-Nya:
وَأَمَّا ٱلۡجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَٰمَيۡنِ يَتِيمَيۡنِ فِي ٱلۡمَدِينَةِ وَكَانَ تَحۡتَهُۥ كَنزٞ لَّهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَٰلِحٗا
“Dan adapun dinding rumah itu adalah milik dua anak yatim di kota itu, yang di bawahnya tersimpan harta bagi mereka berdua, dan ayahnya adalah seorang yang saleh.”
Para mufasir, termasuk Ibnu Abbas RA, menekankan bahwa kedua anak yatim tersebut mendapatkan perlindungan dan pemeliharaan Allah semata-mata karena kesalehan ayahnya.
Dalam Tafsir Al-Baghawi disebutkan bahwa meski sang ayah sudah wafat, dampak dari amal salehnya tetap mengalir melindungi anak-anaknya. Bahkan, sebagian pendapat ulama menyatakan bahwa sosok “ayah saleh” tersebut bukanlah ayah kandung langsung, melainkan kakek ketujuh dari garis keturunan anak tersebut.
Hal ini membawa pesan yang sangat kuat bahwa kebaikan yang dilakukan orang tua hari ini adalah semacam bentuk “asuransi” terbaik bagi anak cucu di masa depan. Allah SWT menjamin kesejahteraan keturunan orang-orang yang bertakwa.
Muhammad bin al-Munkadir, seorang ulama besar dari kalangan tabiin, menyatakan bahwa Allah senantiasa menjaga karena kesalehan seorang hamba: anaknya, cucunya, keluarganya, bahkan lingkungan di sekitar rumahnya.
Penjagaan Allah ini mencakup perlindungan dari marabahaya, kecukupan rezeki, hingga hidayah untuk tetap berada di jalan yang lurus. Jika orang tua menjaga batas-batas Allah, maka Allah akan menjaga apa yang paling berharga bagi orang tua tersebut, yakni anak-anaknya.
Praktik ini terlihat nyata dalam kehidupan para pendahulu yang saleh. Said bin al-Musayyib, salah satu tokoh ulama terkemuka, pernah memberikan teladan yang sangat menyentuh. Beliau sering kali menambah durasi shalat sunnahnya dan beribadah lebih giat dengan niat yang spesifik.
Beliau pernah berkata:
إِنِّي لَأُصَلِّي فَأَذْكُرُ وَلَدِي فَأَزِيدُ فِي صَلَاتِي
“Sesungguhnya aku sedang salat, lalu aku teringat anakku, maka aku pun menambah (memperpanjang) salatku.” Kalimat ini menunjukkan sebuah kesadaran spiritual yang tinggi bahwa seorang manusia memiliki keterbatasan dalam mengawasi anaknya selama dua puluh empat jam.
Dengan memperkuat hubungan pribadinya kepada Allah, Said bin al-Musayyib menitipkan penjagaan anaknya kepada Dzat Yang Maha Menjaga. Ia menjadikan kesalehannya sebagai wasilah atau perantara untuk memohon perlindungan bagi keturunannya.
Selain melalui jalur ibadah ritual, kesalehan orang tua juga harus mewujud dalam keteladanan karakter. Anak adalah peniru yang sangat ulung. Mereka lebih banyak belajar dari apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar.
Tidak mengherankan jika ‘Utbah bin Sufyan pernah memberi nasihat kepada guru bagi anak-anaknya:
لِيَكُنْ أَوَّلَ إِصْلَاحِكَ لِوَلَدِي إِصْلَاحُكَ لِنَفْسِكَ، فَإِنَّ عُيُوبَهُمْ مَعْقُودَةٌ بِعَيْبِكَ، فَالْحَسَنُ عِنْدَهُمْ مَا صَنَعْتَ، وَالْقَبِيحُ عِنْدَهُمْ مَا تَرَكْتَ
“Jadikanlah perbaikan dirimu sebagai awal perbaikan bagi anakku. Sebab cacat mereka terikat dengan cacatmu. Apa yang engkau lakukan dianggap baik oleh mereka, dan apa yang engkau tinggalkan dianggap buruk oleh mereka.” (Abbul Abbas Asy-Syuraisyi, Syarh al-Maqāmāt, III/368).
Jika orang tua menginginkan anak yang jujur, maka mereka harus melihat kejujuran pada orang tuanya. Jika mereka mendambakan anak yang dermawan, maka tangan orang tua harus lebih dahulu ringan dalam memberi. Harta yang halal dan perilaku yang mulia dari orang tua akan menjadi nutrisi spiritual yang bersih bagi pertumbuhan karakter anak.
Sebaliknya, perilaku yang buruk atau harta yang haram dapat menjadi “racun” yang merusak fitrah anak. Itulah mengapa kemaksiatan bisa berpengaruh kepada keluarga. Ada ungkapan yang biasa dinisbatkan kepada Fudhail bin Iyadh bahwa:
إِنِّي لَأَعْصِي اللَّهَ فَأَرَى ذَلِكَ فِي خُلُقِ دَابَّتِي، وَامْرَأَتِي
“Sesungguhnya aku bermaksiat kepada Allah, lalu aku melihat akibatnya pada perangai tungganganku dan istriku.” (Ibn al-Qayyim, al-Dā’ wa al-Dawā’, 54). Kemaksiata yang dilakukan bisa berpengaruh negatif kepada keluarga bahkan anak dan binatang tunggangan.
Di samping itu, penting untuk diketahui bahwa janji Allah bagi orang-orang yang saleh tidak hanya terbatas pada keselamatan diri sendiri. Dalam Surah Al-A’raf ayat 196, Allah berfirman bahwa Dia-lah pelindung bagi orang-orang yang saleh.
Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa perlindungan ini meluas hingga ke tujuh turunan di bawahnya. Hal ini memberikan ketenangan bagi setiap orang tua di tengah zaman yang penuh dengan tantangan moral seperti sekarang.
Jika kita khawatir dengan pergaulan bebas, dekadensi moral, atau tantangan zaman yang mengancam anak-anak, maka solusi utamanya bukanlah sekadar menambah pengamanan fisik atau fasilitas duniawi, melainkan memperbaiki hubungan kita sendiri dengan Sang Pencipta.
Sebagai penutup, kita harus menyadari bahwa anak yang saleh adalah buah yang manis, namun ia tumbuh dari akar yang kuat. Akar itu adalah keimanan dan ketakwaan orang tua. Jangan pernah menuntut anak untuk menjadi saleh sementara kita sendiri mengabaikan kewajiban kepada Allah.
Mari kita ikuti jejak para kekasih Allah dengan memperbagus shalat, menjaga kejujuran, dan memperbanyak amal kebaikan dengan niat agar Allah berkenan menjaga anak-cucu kita. Kesalehan orang tua adalah warisan paling berharga, jauh lebih mulia daripada harta benda, karena ia menjadi kunci pembuka rahmat Allah bagi generasi masa depan. Wallahu a’lam. (MBS)
sumber : https://hidayatullah.com/
RePost: Admin

Tinggalkan Balasan