Oleh: Dr. Kholili Hasib
Hidayatullah.com | CARA PANDANG yang benar terhadap bulan Ramadhan adalah meyakini bahwa ia merupakan bulan paling istimewa dalam Islam. Namun, keyakinan semata tidaklah cukup. Keyakinan itu harus menggerakkan pikiran, menghidupkan kesadaran, dan menjelma menjadi tindakan nyata dalam bentuk peningkatan ibadah Ramadhan.
Banyak orang percaya bahwa Ramadhan adalah bulan paling mulia. Mereka memahami keutamaan Ramadhan, bahkan mampu menjelaskannya. Namun, keyakinan tersebut sering kali tidak berbanding lurus dengan amal perbuatan.
Aktivitas ibadah berjalan biasa saja, tidak berbeda dari bulan-bulan lainnya. Ada keyakinan, tetapi tidak ada peningkatan kualitas ibadah. Ada pengakuan, tetapi tidak ada manifestasi dalam amal.
Padahal, bagi orang bertakwa, kemuliaan bulan Ramadhan menuntut respons yang istimewa. Ramadhan bukan sekadar diyakini keutamaannya, tetapi harus dipersiapkan dan disambut dengan kesungguhan.
Di antara para ulama disebutkan:
رجب شهر الزرع، وشعبان شهر السقي، ورمضان شهر الحصاد
“Bulan Rajab adalah bulan menanam benih, bulan Sya’ban adalah bulan menyirami (benih), dan bulan Ramadhan adalah bulan panen.” (Tuhfatul Ahbab: 237).
Tiga bulan ini—Rajab, Sya’ban, dan Ramadhan—merupakan satu rangkaian proses spiritual. Rajab adalah masa menanam amal, Sya’ban masa merawat dan memperkuatnya, sedangkan Ramadhan adalah puncaknya: masa menuai hasil ibadah.
Karena itu, ketika pikiran mengatakan “Ramadhan itu istimewa”, kesadaran tersebut seharusnya langsung memerintahkan tindakan. Persiapan Ramadhan idealnya dimulai sejak Rajab, bukan hanya beberapa hari sebelum bulan suci tiba.
Para ulama salaf bahkan telah memulai tarhib Ramadhan sejak awal Rajab. Tarhib bukan sekadar seremoni, bukan hanya pengajian atau rangkaian acara simbolik. Tarhib adalah persiapan jiwa—latihan ruhani yang konsisten agar ketika Ramadhan datang, seseorang benar-benar siap memaksimalkan ibadah puasa, qiyamul lail, tilawah Al-Qur’an, dan sedekah.
Di bulan Rajab dan Sya’ban, generasi salaf memperbanyak puasa sunnah, menjauhi hal sia-sia, memperbanyak dzikir dan istighfar, serta meningkatkan bacaan Al-Qur’an. Dua bulan tersebut menjadi masa pembinaan spiritual sebelum memasuki bulan Ramadhan.
Disebutkan dalam Tuhfatul Asyraf, siapa yang menghormati Rajab akan diberi taufik untuk menghormati Sya’ban, dan siapa yang menghormati Sya’ban akan diberi taufik untuk memuliakan Ramadhan. Menghormati bulan-bulan tersebut bukan dengan seremoni, melainkan dengan melaksanakan kewajiban, memperbanyak amalan sunnah, dan meminimalkan perkara makruh serta sia-sia.
Re-Post : adminpondokyatim

Tinggalkan Balasan